Video Berikutnya :

REFLEKSI 10 TAHUN KIPRAH FPI DI MASYARAKAT (1998-2008)

Selama ini masyarakat memandang FPI sebagai organisasi penuh masalah. Aksi-aksi sosial terhadap korban ketidakadilan jarang mendapat porsi layak di media.Bagi media, terutama televisi, aksi anti FPI di-blow up habis-habisan dengan tidak lupa menayangkan secara berulang-ulang cuplikan aksi perusakan yang dilakukan FPI terhadap kafe, tempat pelacuran, warung remang-remang, miras, dan lain-lain. Wajah sangar FPI ditonjolkan untuk menanamkan kebencian masyarakat terhadap FPI. Secara tidak langsung media sudah melakukan hukuman oleh pers (trial by press) terhadap FPI tanpa melakukan cover both side story sebagaimana prinsip media yang harus berimbang dalam pemberitaan. Beberapa stasiun televisi sendiri pernah punya masalah dengan FPI karena FPI mendemo stasiun TV terkait program acaranya yang meresahkan. Karena pemberitaan yang berat sebelah dari media itulah maka stigma FPI sebagai ormas anarkis tertanam di dalam memori banyak orang. Di sisi lain, aksi sosial ormas ini tidak pernah diekspos. Ketika terjadi tsunami di Aceh, FPI lah yang datang awal mengangkat mayat-mayat yang membusuk. Bahkan FPI juga ikut mengadvokasi masyarakat Mesuji di Lampung terkait sengketa lahan, ikut mengamankan perayaan Natal di Jakarta, dll. Namun aksi sosial ini tidak pernah diberitakan, yang selalu diekspose adalah perbuatan negatif mereka saja. Bagi media berlaku prinsip bad news is good news. Tidak heran umat muslim memandang sebelah mata perjuangan FPI selama ini. Padahal banyak rekam jejak FPI membantu umat muslim dan masyarakat umum demi ketentraman dan kenyamanan. Berikut kami sajikan beberapa aksi positif yang sempat terekam. Tentu meski sedikit yang bisa kami rekam ditengah perjuangan FPI melawan kemaksiatan, sikap tegas mereka menghadapi kemungkaran, dan aksi patriotik mereka membantu korban bencana alam. Kami hanya mau bilang bahwa kita beruntung masih memiliki FPI sejak didirikan dari tahun 1998. jasa FPI dalam kegiatan-kegiatan sosial, seperti evakuasi ribuan mayat korban tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. FPI membantu memakamkan mayat, bahkan harus tidur di pemakaman, membersihkan Masjid Baiturrahman yang penuh dengan sampah ketika orang belum banyak datang ke Aceh. Sementara di saat yang sama, kita tidak melihat kiprah Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) di Aceh ketika itu. SULIT melihat Habib Riziq Shihab mengenakan jubah dan kafiyeh putihnya selama hari-hari pascabencana gempa dan tsunami di Banda Aceh. Atribut kebesaran Panglima Laskar Front Pembela Islam itu telah setengah bulan ini bersalin dengan kaus tipis dan celana lebar semata kaki. Bahkan, jabatan panglima dia tinggalkan ketika pada hari-hari tertentu mendapat jatah masuk menjadi anggota tim evakuator mayat. Laskar FPI memang menjadi salah satu relawan evakuator mayat di ibukota NAD. Mereka telah datang sejak hari kedua bencana. Pada Hari itu juga anggota FPI dari Jakarta, Solo, Surabaya dan Makassar telah mendirikan posko di Banda Aceh. Lokasinya pun istimewa, Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Di halaman makam yang berlapis marmer hitam itu, tiga tenda lapangan dan dua tenda logistik didirikan ‘laskar garis keras’ itu. “Emang ente pikir Laskar FPI hanya bisa merusak bar, kami juga punya organisasi penanggulangan pascabencana, ” tukas Habib Riqizk, ketika ditanya motivasinya terjun ke NAD. Marilah kita sadar, yang patut disalahkan bukanlah FPI saja tapi semua elemen masyarakat yang tidak lagi mau membangun diri dengan menyadari kekurangan masing masing.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

26 Juli 2017 pukul 17.52

Saya suka sekali dengan habib ini.
Sepanjang sejarah perjuangan indonsia seperti pageran diponegoro mengusir penjajah (liberal/kapitalis), baru ini muncul ulama sehebat ini, habieb rizieq.

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Rijalul Jabhah | Mas Template
Copyright © 2011. Gallery FPI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger