Puluhan pendemo anti FPI yang terdiri dari pengusaha warung hiburan, pedagang minuman keras, pekerja seks komersial dan warga eks lokalisasi di Tulungagung memadati halaman Pemkab Tulungagung, Selasa (28/10). Mereka menuntut pembubaran FPI di Tulungagung.
Dalam aksinya mereka berorasi menyatakan diri sebagai pendukung Bupati
Syahri Mulyo dalam Pilkada sebelumnya. Perwakilan pendemo berjumlah
sekitar sepuluh orang sempat di temui Asisten Pemerintahan dan Kesra
Bambang Yanuarso di lantai dua kantor Pemkab Tulungagung.
Diiringi dengan musik dangdut koplo, puluhan pendemo yang terdiri atas pengusaha warung hiburan, warga eks lokalisasi, dan juga para wanita pekerja seks komersial menggelar orasi dan diselingi yel-yel menolak FPI ditengah terik matahari yang menyengat.
Meski diluar gedung Balai Rakyat suasana terasa panas dan memekakkan telinga,namun suasana di dalam gedung Balai Rakyat dimana acara seminar Aswaja dilaksanakan kondisinya terasa berbeda. Sekitar 1000 hadirin terdiri dari pria dewasa, wanita, anak-anak, dan juga lansia memadati ruangan mendengarkan tausiyah dari ulama.
Dengan diiringi shalawat badar, suasana pengajian terasa lebih tenang dan jauh dari suasana hiruk pikuk.Para pembicara yang hadir diantaranya ustadz Faris Khoirul Anam, Lc, MHI selaku Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jatim dan DR. Habib Rizieq Syihab selaku Imam Besar DPP Front Pembela Islam.
Tanggapan Habib Rizieq Imam Besar FPI kepada pers:
"Saya sudah terbiasa dengan gerakan anti-FPI yang menolak kedatangan saya ke daerah2 di Indonesia, termasuk Tulungagung. Jadi saya ini tidak kaget ada yang nolak kalau saya datang ke daerah-daerah, Anda sebagai media di daerah lebih tahu, apakah mereka yang nolak itu golongan germo, pelaku prostitusi, preman, pemilik kafe, atau bahkan kelompok non-Muslim saya mengingatkan pada media untuk bersikap proporsional dan obyektif dalam memberitakan isu FPI.Tidak hanya sebatas memberitakan aksi penolakan maupun kritik yang dialamatkan ke
ormas FPI, tetapi juga menyampaikan fakta kepada publik bahwa kehadiran mereka diterima oleh sebagian umat lain, yang jumlahnya tak kalah banyak dibanding massa yang menentang.
FPI memiliki standar prosedur perjuangan dan tidak asal berbuat anarkis. Ada sekian tahapan gerakan dalam rangka amar makruf nahi munkar yang kami berlakukan, mulai dari menerima laporan, investigasi, dakwah, hingga gerakan nonligitasi, termasuk melalui unjuk rasa"
di kutif dari fb : Utsman Yahya
Diiringi dengan musik dangdut koplo, puluhan pendemo yang terdiri atas pengusaha warung hiburan, warga eks lokalisasi, dan juga para wanita pekerja seks komersial menggelar orasi dan diselingi yel-yel menolak FPI ditengah terik matahari yang menyengat.
Meski diluar gedung Balai Rakyat suasana terasa panas dan memekakkan telinga,namun suasana di dalam gedung Balai Rakyat dimana acara seminar Aswaja dilaksanakan kondisinya terasa berbeda. Sekitar 1000 hadirin terdiri dari pria dewasa, wanita, anak-anak, dan juga lansia memadati ruangan mendengarkan tausiyah dari ulama.
Dengan diiringi shalawat badar, suasana pengajian terasa lebih tenang dan jauh dari suasana hiruk pikuk.Para pembicara yang hadir diantaranya ustadz Faris Khoirul Anam, Lc, MHI selaku Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jatim dan DR. Habib Rizieq Syihab selaku Imam Besar DPP Front Pembela Islam.
Tanggapan Habib Rizieq Imam Besar FPI kepada pers:
"Saya sudah terbiasa dengan gerakan anti-FPI yang menolak kedatangan saya ke daerah2 di Indonesia, termasuk Tulungagung. Jadi saya ini tidak kaget ada yang nolak kalau saya datang ke daerah-daerah, Anda sebagai media di daerah lebih tahu, apakah mereka yang nolak itu golongan germo, pelaku prostitusi, preman, pemilik kafe, atau bahkan kelompok non-Muslim saya mengingatkan pada media untuk bersikap proporsional dan obyektif dalam memberitakan isu FPI.Tidak hanya sebatas memberitakan aksi penolakan maupun kritik yang dialamatkan ke
ormas FPI, tetapi juga menyampaikan fakta kepada publik bahwa kehadiran mereka diterima oleh sebagian umat lain, yang jumlahnya tak kalah banyak dibanding massa yang menentang.
FPI memiliki standar prosedur perjuangan dan tidak asal berbuat anarkis. Ada sekian tahapan gerakan dalam rangka amar makruf nahi munkar yang kami berlakukan, mulai dari menerima laporan, investigasi, dakwah, hingga gerakan nonligitasi, termasuk melalui unjuk rasa"
di kutif dari fb : Utsman Yahya


Posting Komentar